-->

Asia Tenggara di Piala Asia

Kualifikasi Piala Asia 2019 telah usai. Sebanyak 24 tim telah memastikan diri untuk berpartisipasi di ajang sepak bola empat tahunan antarnegara Asia yang bakal digelar di Uni Emirat Arab pada 5 Januari hingga 1 Februari itu. Dari 24 tim, tiga di antaranya berasal dari Asia Tenggara, yaitu Thailand, Vietnam, dan tim debutan Filipina. Ini merupakan keikutsertaan tim-tim Asia Tenggara kali pertama sejak Piala Asia 2007.
Layout

Sepak bola Asia Tenggara sebenarnya tidak asing dengan Piala Asia. Sejak penyelenggaraan ajang ini yang pertama pada 1956, Asia Tenggara sudah berpartisipasi. Kala itu Vietnam Selatan yang mewakili region ini. Pada turnamen yang digelar di Hongkong itu, Vietnam Selatan meraih posisi keempat. Posisi yang sama juga diraih empat tahun berikutnya di Korea Selatan.

Selain Vietnam Selatan, tim Asia Tenggara lainnya yang juga meraih posisi keempat adalah Kamboja pada pergelaran tahun 1972 di Thailand. Penunjukan Thailand sebagai tuan rumah adalah yang pertama untuk Asia Tenggara. Dalam ajang ini, Kamboja melaju hingga semifinal setelah menempati peringkat kedua di belakang Korea Selatan. Di semifinal Kamboja harus menyerah pada Iran dengan skor tipis 2-1 sehingga membuat negara tersebut harus berhadapan dengan Thailand pada perebutan tempat ketiga dan keempat. Bisa dibilang inikah duel sesama tim Asia Tenggara yang pernah terjadi dalam sejarah Piala Asia. Dalam duel itu Kamboja harus menyerah kalah dari tuan rumah melalui adu penalti. Posisi Thailand sebagai juara ketiga merupakan prestasi terhebat satu-satunya Negeri Gajah Putih di sepak bola Asia.

Namun prestasi yang tak kalah populer ditorehkan tim Asia Tenggara lainnya, Myanmar. Pada Piala Asia 1968 di Iran. Dalam turnamen yang menggunakan sistem round-robin itu, Myanmar yang diperkuat oleh pemain legendaris Suk Bahadur, kalah dalam selisih poin dari tuan rumah. Penyebabnya kala bertemu Iran, Myanmar menyerah kalah 1-3. Prestasi Myanmar inilah yang boleh dibilang prestasi yang membanggakan dari tim-tim Asia Tenggara, dan prestasi yang sepertinya mustahil terulang.

 Ya, semenjak Piala Asia 1972, tak ada lagi prestasi-prestasi membanggakan yang bisa diukir oleh tim-tim Asia Tenggara. Lahirnya tim-tim penguasa baru terutama dari negara-negara Arab, munculnya tim-tim Asia Tengah eks Uni Soviet, persaingan sepak bola yang hanya mengerucut ke tim-tim Asia Timur dan Asia Barat, serta kehadiran Australia sebagai raksasa baru membuat Asia Tenggara keluar dari persaingan dan hanya dianggap sebagai penggembira.

Prestasi terbaik tim-tim Asia Tenggara setelah 1972 adalah melajunya Vietnam hingga 16 besar Piala Asia 2007 yang digelar di empat negara Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sebelum melaju hingga 16 besar, dan dikalahkan Irak, Vietnam yang kala itu dilatih Alfred Riedl sukses mengalahkan Uni Emirat Arab, seri dengan Qatar, dan kalah dari Jepang. Hasil yang demikian membuat Vietnam menjadi runner-up grup B mendampingi Jepang.

Dalam sejarah keikutsertaan tim-tim Asia Tenggara di Piala Asia, nama Widodo Cahyono Putro sepertinya tidak akan bisa lupa dari ingatan semua orang. Pria asal Cilacap yang kini menangani Bali United ini sukses membuat semua orang terperangah akan tendangan saltonya kala Indonesia menghadapi tuan rumah Uni Emirat Arab di Piala Asia 1996. Menerima umpan Ronny Wabia dari sisi kanan, Widodo dengan instingnya langsung menyambar bola melalui salto dan menghantam gawang Uni Emirat Arab yang dijaga oleh Khaled al Fadhli. Gol itu merupakan salam debut untuk Indonesia di turnamen antarnegara Asia itu, dan menjadi prestasi tersendiri karena dinobatkan sebagai salah satu gol terbaik turnamen oleh AFC walau Indonesia gagal lolos ke babak berikutnya.
Soal keikutsertaan di Piala Asia, jelas Thailand yang nomor satu untuk Asia Tenggara. Tim Gajah Putih ikut sebanyak 7 kali sejak tampil di kandang sendiri pada 1972. Setelah itu Vietnam dan Indonesia dengan 4 kali. Berikutnya Malaysia, dengan tiga kali tampil, dan Myanmar, Kamboja, Singapura, dan Filipina, masing-masing 1 kali. Total sudah 8 negara tampil di ajang sepak bola nomor satu di Asia ini. Namun dari semuanya belum ada satu pun yang menghasilkan top skor.

Bagaimana dengan produktivitas?

Total sudah 59 gol diledakkan tim-tim Asia Tenggara sepanjang keikutsertaan di Piala Asia. Dari jumlah sebanyak itu, Thailand memimpin dengan 15 gol. Diikuti oleh Vietnam dengan 12 gol. Untuk ukuran gol dalam sejarah Piala Asia ada tim yang ama sekali tidak memasukkan bola kala mengikuti turnamen. Tim itu adalah Indonesia pada Piala Asia 2000 di Lebanon. Sepanjang tiga pertandingan grup, Indonesia yang masih diperkuat Rochy Putiray dan Kurniawan Dwi Yulianto  kenyataannya malah harus menerima kenyataan kemasukan 7 gol dari Cina dan Korea Selatan.

Sedangkan untuk kemenangan terbesar diraih oleh Kamboja atas Kuwait dengan skor 4-0 di Piala Asia 1972. Kamboja waktu itu diperkuat oleh salah satu pemain bintangnya, Doeur Sokhom. Sedangkan kekalahan terbesar diderita oleh Thailand pada Piala Asia 1992. Tim Gajah Putih kemasukan 6 gol dari Arab Saudi.

Nah, itulah kiprah tim-tim Asia Tenggara di Piala Asia. Berkaca dari yang sudah-sudah tim-tim Asia Tenggara sebenarnya potensial untuk menggeser dominasi Asia Timur dan Barat namun lagi-lagi hal itu sering terbentur pada kenyataan di lapangan. Hanya Thailand yang tetap dianggap sebagai representatif yang mumpuni dari kawasan ini. Tentu saja hal tersebut berkaitan dengan reputasi Thailand sebagai raja sepak bola di Asia Tenggara hingga sekarang. Semoga saja di Piala Asia 2019 ada kejutan yang diberikan oleh tim-tim Asia Tenggara agar tidak dianggap lagi sebagai penggembira.

0 Response to "Asia Tenggara di Piala Asia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel