-->

ARMM, Wilayahnya Orang Muslim Filipina

Apabila Indonesia mempunyai wilayah otonomi yang menerapkan syariat Islam, yaitu Provinsi Aceh, begitu juga dengan Filipina. Nama wilayah otonomi itu adalah ARMM atau Autonomous Region in Muslim Mindanao. Wilayah ini terletak di Pulau Mindanao yang berada di sebelah selatan Filipina.
ARMM.gov.ph


Karena merupakan wilayah otonomi Muslim, tentu saja penduduk ARMM mayoritas beragama Islam. Dan akrab disebut sebagai orang Moro. Penyebutan ini diberikan oleh Spanyol kala menjajah Filipina, dan melihat kenyataan bahwa banyak orang Islam bermukim di Mindanao. Moro sendiri berasal dari kata moor, yaitu orang-orang Islam yang pernah memerintah Spanyol terutana di Andalusia pada abad pertengahan.

Penyebutan Moro oleh Spanyol untuk membedakan sebutan Endius yang disematkan pada orang-orang non-Muslim di Filipina. Semenjak itu, orang muslim Filipina akrab disebut dengan orang Moro walaupun di dalam orang Moro itu terdapat beragam bangsa seperti Ilokano, Tausug, Bajau, dan Maranao.

Keberadaan ARMM sendiri selain terkait dengan orang-orang Moro di Mindanao, juga tidak lepas dari situasi yang terjadi di pulau itu selepas Perang Dunia Kedua yang kemudian memuncak pada masa Ferdinand Marcos berkuasa. Wilayah orang Moro yang sebelumnya telah terbebas dari penjajahan Spanyol, Amerika Serikat, dan Jepang, tiba-tiba kembali terusik kala Presiden Ramon Magsaysay mulai membuka jalan bagi orang-orang non-Moro terutama dari Pulau Visayas untuk menempati wilayah tersebut, dengan alasan untuk memperlebar identitas Filipino. Namun tindakan ini dicurigai sebagai upaya kristenisasi dan karena sumber daya alam yang dimiliki Pulau Mindanao seperti hasil-hasil pertanian dan pertambangan yang ternyata menyumbang pendapatan terbesar untuk Filipina.
ARMM.gov.ph


Tentu saja kedatangan orang-orang non-Moro itu menimbulkan gesekan-gesekan ekonomi, sosial, dan politik, yang akhirnya memuncak di masa Ferdinand Marcos menjadi presiden. Ia kerahkan seluruh tentara untuk memerangi orang-orang Moro demi sumber daya alam, dan menyebut mereka komunis. Orang-orang Moro tentu saja tidak tinggal diam. Mereka membentuk Front Pembebasan Moro atau MILF, dengan Nur Misuari sebagai pimpinan. Berbagai upaya dilakukan MILF ke luar negeri terutama ke negara-negara Islam demi mendapat eksistensi atas perjuangan yang mereka lakukan, salah satunya lepas dari Filipina yang kerap memerangi mereka walaupun hal itu akhirnya diperlunak dengan pemberian wilayah otonomi khusus untuk menjalankan pemerintahan sendiri dengan syariat Islam sesuai Perjanjian Tripoli pada dekade 1970-an.
Tribune.com.pk


Dan akhirnya ARMM pun dibentuk pada 1989, tepat setelah tiga tahun Marcos diturunkan dari takhta kepresidenan melalui gerakan People Power. Adalah pengganti Marcos, Cory Aquino, yang memulai inisiatif dengan MILF untuk pembentukan ARMM.

Semenjak itulah wilayah Mindanao menerima otonomi khusus meskipun konflik kerap terjadi seperti yang belakangan meletus di Marawi. Pada 2002, pemerintah Filipina menjadikan Idul Fitri sebagai hari libur nasional, dengan tujuan merekatkan persaudaraan antara orang Filipina di utara dan selatan, serta sebagai pengakuan pemerintah Filipina terhadap orang-orang Moro yang menjadi Islam sejak abad ke-15 melalui Shariff Kabunsuan. Ketika Marcos berkuasa ia juga mengangkat Sultan Kudarat, pahlawan muslim Moro, sebagai salah satu pahlawan nasional Filipina bersanding dengan Jose Rizal dan Andres Bonifacio, dengan tujuan meraih simpati orang-orang Moro dan dunia Islam.

ARMM atau dalam bahasa Tagalog, Autonomong Rehiyon sa Muslim Mindanao, merupakan wilayah otonomi yang terdiri dari lima provinsi, yaitu Basilan, Tawi-Tawi, Sulu, Manguindanao, dan Lanao del Sur. Ibu kotanya adalah Cotabato secara de facto. Wilayah otonomi ini diperintah oleh seorang gubernur yang membawahkan para gubernur lima provinsi. Karena otonomi, wajar jika ARMM juga mempunyai dewan perwakilan rakyat sendiri yang berfungsi mengeluarkan dan menerapkan syariat Islam. ARMM mempunyai dua kota, yaitu Lamitan dan Marawi. Pada 2012, Presiden Benigno Aquino III berencana mengganti nama ARMM dengan nama Bangsamoro Autonomous Region setelah pencapaian kesepakatan antara pemerintah Filipina dan MILF. Pemberian nama Bangsamoro ini lebih untuk mengakui dan memperkuat identitas orang-orang Moro dalam menjalankan hak otonominya.
Inquierer



Terlepas dari situasi politik yang ada di ARMM, wilayah ini sejatinya juga mempunyai banyak tempat wisata seperti Danau Lanao, Laguna Marquez, Pantai Punta, Masjid Agung Tulay, dan makam Sultan Kudarat. Beberapa peninggalan Jepang di Perang Dunia turut melengkapi destinasi wisata di wilayah otonomi muslim yang bahasa Arabnya adalah Al hukm al dhiyati al aqlimiyy limuslimiyy Mindanau.


0 Response to "ARMM, Wilayahnya Orang Muslim Filipina"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel