-->

Latin dan Non-Latin: Aksara-Aksara di Asia Tenggara

Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Oleh karena berbudaya, manusia pun menciptakan dan mengembangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan insan, rasa, dan karsa. Segala sesuatu yang diciptakan manusia itu pun mengikuti dengan situasi dan kondisi sosial kehidupan tempat manusia berada. Karena dilengkapi akal dan pikiran oleh Tuhan, manusia mampu merekam segala macam peristiwa dalam bentuk verbal menjadi non-verbal. Manusia prasejarah telah membuktikannya dengan coretan-coretan pada dinding di gua. Coretan-coretan itu, yang pada awalnya hanyalah gambar biasa, lama-kelamaan berubah menjadi tanda-tanda, yang di kemudian hari akan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Tanda-tanda, yang dibuat oleh manusia, berupa keadaan atau peringatan dalam bentuk visual, perlahan-lahan berubah menjadi aksara. Aksara inilah yang akan berpengaruh terhadap bahasa non-verbal, yang merupakan produk manusia dalam berkomunikasi.
wikipedia.org
Aksara merupakan produk penting dalam bahasa non-verbal. Tanpa aksara, bahasa non-verbal takkan tercipta. Bila bahasa non-verbal tidak ada, sudah dipastikan sejarah peradaban manusia juga tidak ada sehingga menjadi nir-sejarah. Bahasa non-verbal cukup dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari manusia sebab ia merupakan pelengkap bahasa verbal.

Dari aksara yang menciptakan bahasa non-verbal, terciptalah beberapa kebudayaan dan peradaban ketika manusia mulai memasuki masa sejarah. Dimulai dari Mesir Kuno, lalu berlanjut ke Mesopotamia, India, hingga Cina. Dari merekalah beberapa aksara tercipta seperti aksara Hieroglif, aksara paku (cuneiform), aksara Pallawa, dan Han. Dan aksara-aksara itulah yang merekam sejarah perjalanan setiap bangsa.

Hal yang sama berlaku di Asia Tenggara. Di wilayah ini beberapa kebudayaan dan peradaban yang tercipta terekam oleh beberapa aksara. Di masa-masa awal penyebaran Hindu-Buddha, terdapat aksara Pallawa, yang menjadi tonggak untuk bahasa Sansekerta, yang kemudian dipakai di seluruh wilayah di Asia Tenggara, yang ketika itu masih berbentuk kerajaan. Aksara pallawa, yang berasal dari India Selatan dan merupakan turunan lain dari Semit, masuk ke Asia Tenggara sebagai bahasa penyebaran Hindu-Buddha dan tata cara pemerintahan. Hingga hari ini aksara Pallawa masih bertahan dalam bentuk-bentuk aksara di beberapa negara di Asia Tenggara. Di antaranya Indonesia (Hanacaraka, Aksara Sunda, Bugis, Rejang, Batak), Filipina (Buhid, Baybayin), Kamboja (Khmer), dan Thailand (abjad Thai). Selain itu beberapa kata yang berasal dari bahasa Sansekerta masih bertahan dalam beberapa bahasa di Asia Tenggara, meskipun sudah di-Latin-kan atau mengikuti aksara tempatan.

Selain aksara Pallawa, di Asia Tenggara juga terdapat aksara Han. Tepatnya di Vietnam, dengan nama Chu Nom. Aksara Han ada di Vietnam dikarenakan sejarah Vietnam yang lekat dengan penjajahan Cina selama lebih 1 millenium. Sayangnya, aksara ini tidak lagi digunakan secara luas di Vietnam, yang lebih memilih aksara Latin. Aksara ini hanya digunakan pada acara-acara tertentu, seperti Tahun Baru Vietnam, Tet. Vietnam, bersama-sama dengan Indonesia, Malaysia, Brunei --walaupun Brunei juga menggunakan aksara Jawi--, Singapura, dan Filipina, adalah negara-negara yang menggunakan bahasa resminya dengan aksara Latin. Aksara Latin muncul karena kolonialisme di Asia Tenggara, yang dimulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20.

Selain aksara Pallawa dan Han, juga terdapat aksara Jawi di Asia Tenggara. Aksara Jawi merupakan aksara dalam bahasa Arab yang dikembangkan ke dalam bahasa Melayu. Dengan kata lain, aksara Jawi merupakan bahasa Melayu bertulisan Arab. Nama lain aksara ini ialah Arab Melayu. Keberadaan aksara Jawi di Asia Tenggara lekat dengan islamisasi di Asia Tenggara. Karena itu, aksara ini berada di negara-negara, yang mayoritasnya penduduknya muslim. Aksara Jawi kebanyakan digunakan untuk kegiatan religius dan pendidikan Islam. Dewasa ini, aksara Jawi digunakan di Terengganu, Johor, Kedah, Perlis, dan Kelantan (Malaysia), Aceh, Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Selatan (bahasa Banjar) (Indonesia), Pattani (Thailand Selatan), dan Brunei.

Aksara-aksara di Asia Tenggara, yang berhubungan dengan bahasa non-verbal di wilayah ini, menurut Ethnologue, berjumlah 1.253 bahasa hidup. Jumlah itu kebanyakan didapatkan di Indonesia, negara terbesar di kawasan ini. Aksara-aksara di Asia Tenggara ini masuk ke dalam kelompok lima bahasa utama di Asia Tenggara, yaitu Austronesia, Austro-Asiatik, Tai-Kadai, Tibeto-Burma, dan Hmong-Mien. Jika dilihat dari gambaran yang ada bisa disimpulkan bahwa aksara-aksara di Asia Tenggara cukup beragam. Kebanyakan aksara dari peradaban-peradaban yang lahir di dekat kawasan ini, India dan Cina kemudian masuklah aksara dari Arab dan Eropa. Beberapa aksara dari India (Pallawa) menjadi aksara resmi dan nasional di Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Sementara lainnya hanya menjadi aksara tempatan beberapa daerah. Inilah yang membuat unik Asia Tenggara karena mempertemukan aksara Latin dan Non-Latin.

0 Response to "Latin dan Non-Latin: Aksara-Aksara di Asia Tenggara"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel